Kamu membeli lima ribu rupiah. Penjualnya berterima kasih. Sembari menyiapkan cilokmu, ia menceritakan jualan ciloknya hari ini sepi. Baru kamu yang membeli.
"Pakai saus nggak, Neng?"
Kamu meminta ciloknya diberikan saus, kecap, dan cabai tabur. Plastik dengan tusukan berisi lima butir cilok diberikan kepadamu. "Hatur nuhun, Neng."
Sami-sami. Kamu hanya berakhir menjawab dalam hati karena keburu kalap. Cilok kamu lahap secepat kilat. Benar kata penjual cilok. Daging ikannya sangat terasa, bukan hanya sekadar tepung diberi bumbu. Mungkin komposisinya 30 persen daging. Bisa dibilang, ini adalah cilok paling enak yang pernah kamu makan seumur hidupmu.
Bapak penjual cilok tersenyum. "Beli lagi kalau enak, Neng."
Kamu hendak mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari kantong, tapi terhenti. Bungkus cilokmu terlempar karena kamu terperanjat.
Tanganmu menghitam. Dua-duanya. Kuku tajam mencuat dari ujung jari. Para warga di pasar mengerumuni. Mereka menontonmu sambil bertepuk tangan dan bersorak seperti menonton pertunjukan topeng monyet.
Kamu membeku di tempat, tidak bisa apa-apa. Kamu sadari juga kulit para warga perlahan menghitam. Rambut dan bola mata mereka memutih seluruhnya.
Detik itu juga, kamu berubah menjadi dedemit. Semua itu terjadi karena lupa membaca basmalah.
[TAMAT]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar