1. Perlawanan terhadap Portugis
a. Pada tahun 1512, terjadi perlawanan di Malaka yang dipimpin oleh Pate Kadir, dan Demak juga menyerang Portugis di bawah kepemimpinan Pati Unus.
b. Pada tahun 1513, Aceh dan Demak melancarkan serangan ke Malaka untuk menghadapi Portugis. Aceh melakukan beberapa tindakan, seperti melengkapi kapal-kapal yang berlayar ke Timur Tengah dengan meriam dan prajurit, meminta bantuan persenjataan dan ahli perang dari Turki yang dipenuhi pada tahun 1567, serta mendatangkan bantuan dari Kalikut dan Jepara.
c. Pada tahun 1529, terjadi perang antara Portugis dan Kerajaan Tidore yang dibantu oleh Kerajaan Ternate dan Bacan. Sultan Hairun dari Tidore dikhianati dan dihukum mati oleh Portugis, sehingga rakyat Tidore marah dan menyerang Portugis secara habis-habisan.
2. Perlawanan terhadap VOC
a. Maluku kembali melakukan pemberontakan di beberapa daerah seperti Rakyat Hiu, Ambon, Ternate, Jailolo, dan wilayah lainnya.
b. Kerajaan Gowa melakukan perlawanan terhadap VOC karena VOC ingin menguasai perdagangan di Makassar. VOC menyarankan agar Sultan Gowa menyerang Banda bersama-sama dengan VOC, tidak menjual rempah ke Portugis, dan tidak membeli rempah dari Portugis. Perang pecah antara VOC dengan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin.
c. Kerajaan Mataram melakukan perjanjian perdamaian dengan VOC yang menyatakan bahwa Mataram mengakui kekuasaan VOC di Batavia, boleh berdagang di seluruh Indonesia kecuali Maluku, VOC mengirim duta setiap tahun ke Kerajaan Mataram, dan diadakan tukar menukar tawanan perang. Namun, karena Raja Amangkurat bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, terjadilah pemberontakan Trunajaya yang dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom yang didukung oleh Karaeng Galesung dari Makassar.
3. Perlawanan terhadap Kolonial Belanda
a. Perlawanan di Maluku
Terjadi perlawanan di Maluku pada tahun 1817 karena Belanda memaksa masyarakat setempat untuk menyerahkan hasil bumi. Pada malam tanggal 15 Mei 1817, sekelompok pemuda Saparua di bawah pimpinan Pattimura membakar kapal-kapal di pelabuhan Belanda. Namun, Belanda berhasil menangkap Pattimura dan menghukumnya dengan hukuman gantung pada tanggal 16 Desember 1817.
b. Perang Padri (1815 – 1837)
Perang Padri terjadi antara kaum adat dan kaum padri, dipicu oleh perintah Belanda kepada kedua kelompok untuk bekerja rodi. Perang ini dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dan didukung oleh Sentot Alibasah. Namun, Belanda berhasil mengalahkan perlawanan ini dan Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur.
c. Perang Diponegoro (1825 - 1830)
Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan menggunakan taktik gerilya untuk melawan Belanda. Namun, Belanda berhasil menggunakan taktik Benteng Stelsel untuk mengalahkan perlawanan ini. Pangeran Diponegoro akhirnya diasingkan ke Manado dan kemudian dipindahkan ke Makassar.
d. Perang Jagaraga (1849)
Kapal Belanda terdampar di Buleleng dan menurut hukum Tawarikh Karang, kapal itu menjadi milik Kerajaan Buleleng. Namun, Belanda menolak dan terjadilah peperangan yang dipimpin oleh Gusti Ketut Jelantik. Peperangan ini dikenal dengan sebutan Perang Puputan karena berakhir dengan kemenangan Belanda dan seluruh Bali dikuasai oleh Belanda.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar