Selasa, 25 Juli 2023

Sejarah Walisongo (Sembilan Wali)

Walisongo artinya 'sembilan wali'. Walisongo adalah sembilan ulama yang  membentuk lembaga dakwah di Jawa. Keberadaan walisongo di tanah Jawa berdampak besar di berbagai bidang seperti perdagangan, pelayaran atau perikanan, agraris, medis, budaya dan kesenian, pendidikan, dan sebagainya. Anggota walisongo adalah sebagai berikut.

  1. Sunan Gresik, beliau dikenal juga dengan nama Syekh Maulana Malik Ibrahim. Beliau merupakan putra dari Syekh Jumadil Kubra yang berasal dari Turki. Syekh Maulana datang ke pulau Jawa pada 1404 M. Beliau mendirikan pesantren sebagai pengembangan dunia pendidikan Islam dan memberikan gagasan mengenai pengairan untuk sawah dan ladang. Beliau wafat pada 1419 M di Gresik.
  2. Sunan Ampel, beliau dikenal juga dengan nama Raden Rahmat. Menurut Babad Diponegoro, beliau mempunyai pengaruh yang sangat kuat di kalangan istana Majapahit. Raden Rahmat merupakan orang yang merancang Kerajaan Islam di pulau Jawa. Sunan Ampel wafat tahun 1478.
  3. Sunan Bonang, beliau dikenal juga dengan nama Raden Makdum Ibrahim. Beliau diperkirakan lahir sekitar tahun 1465 M dan dianggap sebagai pencipta gending pertama untuk mengembangkan agama Islam di pesisir utara Jawa Timur. Selain itu, pondok pesantren juga didirikan di Tuban. Walisongo menyebarkan agama Islam dengan cara menyesuaikan budaya masayarakat Jawa yaitu wayang dan musik gamelan sebagai media dakwah para wali. Oleh sebab itu, Raden Makdum Ibrahim menciptakan tembang atau lagu gamelan berjudul tembang Durma. Beliau wafat pada 1525 M.
  4. Sunan Giri, beliau dikenal juga dengan nama Raden Paku. Beliau mendirikan pondok pesantren Giri yang dalam waktu singkat dikenal di seluruh penjuru negeri. Raden Paku menciptakan tembang dolanan seperti Cublak Suweng dan Jemuran.
  5. Sunan Drajat, beliau dikenal dengan nama Raden Syarifudin. Sumber lain mengatakan nama lainnya adalah Raden Qasim. Beliau berdakwah di daerah barat Gresik dan mendirikan pesantren untuk para muridnya. Gamelan yang menjadi kesenian dan budaya masyarakat Jawa menjadi salah satu media dakwah untuk mengembangkan Islam di daerah tersebut.
  6. Sunan Kalijaga, beliau dikenal dengan nama Raden Said. Selain itu, nama lain yang dikenal adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Raden Said juga menggunakan kesenian dalam menyebarkan agama Islam. Media dakwah seperti wayang masih menggunakan tokoh pewayangan yang dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi tetap disisipkan ajaran agama Islam. Hal tersebut bertujuan untuk memasukkan nilai-nilai Islam secara perlahan pada masyarakat Jawa saat itu yang masih menganut Hindu-Buddha.
  7. Sunan Kudus, beliau menyebarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Dengan luasnya ilmu yang dimilikinya, Sunan Kudus dijuluki dengan wali al-‘ilm. Beliau membangun masjid di daerah Loran pada 1549 yang dikenal dengan Masjid Menara Kudus. Sunan Kudus menghasilkan cerita keagamaan yang terkenal seperti Gending Makunambang dan Mijil. Beliau wafat pada 1550 M.
  8. Sunan Muria, beliau dikenal dengan Raden Umar Said. Pusat dakwah dan makamnya terletak di Gunung Muria sehingga dijuluki dengan Sunan Muria. Dakwahnya begitu halus, menyesuaikan budaya, dan tidak memaksakan. Media dakwah yang masih menggunakan kesenian gamelan dan wayang dibuktikan dengan adanya tembang Sinom dan Kinanthi yang diciptakannya.
  9. Sunan Gunung Jati, mempunyai nama asli Syarif Hidayatullah. Beliau menyebarkan agama Islam di Jawa khususnya Jawa Barat yang juga merupakan pendiri dari Kesultanan Cirebon. Dakwahnya juga ke daerah-daerah lain seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar