Minggu, 21 Januari 2024

Tokoh Perang Dunia II - Biografi Kaisar Hirohito

Kaisar Hirohito adalah kaisar Jepang saat Perang Dunia II. Dia lahir pada 29 April 1901 di Tokyo. Saat kelahirannya, kakeknya adalah Kaisar Jepang dan ayahnya adalah putra mahkota. Sewaktu kecil dia dipanggil Pangeran Michi.

Tak lama setelah lahir, dia dibesarkan oleh anggota keluarga kerajaan. Menginjak usia 7 tahun, Hirohito masuk ke sekolah khusus bangsawan Jepang yang disebut Gakushuin.

Di usia 11 tahun, kakek Hirohito meninggal. Kejadian itu membuat ayahnya menjadi kaisar dan Hirohito sendiri menjadi putra mahkota. Pada 1921, Hirohito mengunjungi Eropa. Dialah putra mahkota Jepang pertama yang pergi ke Eropa. Di sana, dia mengunjungi banyak negara, termasuk Perancis, Italia, dan Inggris.

Sepulang dari Eropa, Hirohito menyadari ayahnya sakit. Dia pun mengambil alih kepemimpinan Jepang, sebagai pengganti kaisar. Dia memerintah sampai ayahnya meninggal pada 1926. Setelah ayahnya meninggal, Hirohito menjadi kaisar.

Ketika menjadi kaisar, dia tidak lagi dipanggil Hirohito. Dia dipanggil “Yang Mulia” atau “Yang Mulia Kaisar”. Dinastinya disebut “Showa” yang berarti ‘kedamaian dan pencerahan’. Setelah kematiannya sampai saat ini, Hirohito disebut Kaisar Showa.


Naik Takhta

Walaupun Hirohito punya kekuasaan penuh di Jepang, dia diajarkan sejak muda bahwa kaisar harus menjauhi urusan politik. Serahkan saja pada penasihat. Awalnya dia mengikuti saran para penasihatnya. Saat pemerintahannya, banyak penasihat yang merangkap pemimpin militer. Mereka ingin Jepang menambah kekuatan dan kekuasaaannya. Hirohito merasa terpaksa mengikuti saran mereka, karena takut dibunuh.

Salah satu peristiwa besar dalam kepemimpinan Hirohito adalah invasi Jepang ke Tiongkok. Jepang memang negara kuat, tetapi kecil. Jepang butuh lebih banyak wilayah dan sumber daya alam. Pada 1937, Jepang pun menginvasi Tiongkok. Mereka mengambil alih wilayah utara Mancuria dan menaklukkan kota Nanking, ibukotanya.


Perang Dunia II

Pada 1940, Jepang bersekutu dengan Jerman dan Italia dalam Pakta Tripartit. Ketiganya secara resmi menjadi anggota Blok Poros di Perang Dunia II. Agar terus melebarkan pengaruhnya di Pasifik Selatan, Jepang mengebom pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor. Pengeboman ini membuat Jepang mengambil alih sebagian besar wilayah Pasifik Selatan.

Awalnya, peperangan ini menguntungkan Hirohito. Namun, perang berubah mengancam bagi Jepang pada 1942. Di awal 1945, militer Jepang berhasil dikembalikan ke negara asalnya. Hirohito dan para penasihatnya menolak menyerah. Pada Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki. Ratusan ribu orang tewas dalam peristiwa itu.


Penyerahan Diri

Setelah melihat kehancuran akibat bom atom, Hirohito sadar satu-satunya cara menyelamatkan Jepang adalah dengan menyerah. Dia mengumumkan penyerahan diri di radio yang didengarkan seluruh orang Jepang pada 15 Agustus 1945. Itulah pertama kalinya dia memanggil rakyat Jepang dan pertama kali suaranya didengar masyarakat.

Seusai perang, banyak pemimpin Jepang yang dihukum karena kejahatan perang. Beberapa orang sampai dieksekusi karena perlakuan dan penyiksaan mereka terhadap orang sipil dan tahanan perang. Meskipun banyak pemimpin negara Sekutu ingin Hirohito dihukum, Jenderal Ameriksa Serikat Douglas MacArthur memutuskan membiarkan Hirohito menjadi kepala negara. Hirohito tidak punya kekuatan, tetapi keberadaannya diharapkan dapat menjaga kedamaian Jepang.

Sampai beberapa tahun kemudian, Hirohito tetap jadi kaisar Jepang. Dia menjadi kaisar dengan kekuasaan terlama dalam sejarah Jepang. Dia menyaksikan negaranya pulih dari perang dan menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Hirohito meninggal karena kanker pada 7 Januari 1989.

Artikel ini adalah saduran dari https://www.ducksters.com/history/world_war_ii/hirohito.php

Tidak ada komentar:

Posting Komentar