Kaisar Hirohito adalah kaisar Jepang saat Perang Dunia II. Dia lahir pada 29 April 1901 di Tokyo. Saat kelahirannya, kakeknya adalah Kaisar Jepang dan ayahnya adalah putra mahkota. Sewaktu kecil dia dipanggil Pangeran Michi.
Tak lama setelah lahir, dia dibesarkan
oleh anggota keluarga kerajaan. Menginjak usia 7 tahun, Hirohito masuk ke
sekolah khusus bangsawan Jepang yang disebut Gakushuin.
Di usia 11 tahun, kakek Hirohito
meninggal. Kejadian itu membuat ayahnya menjadi kaisar dan Hirohito sendiri
menjadi putra mahkota. Pada 1921, Hirohito mengunjungi Eropa. Dialah putra
mahkota Jepang pertama yang pergi ke Eropa. Di sana, dia mengunjungi banyak
negara, termasuk Perancis, Italia, dan Inggris.
Sepulang dari Eropa, Hirohito
menyadari ayahnya sakit. Dia pun mengambil alih kepemimpinan Jepang, sebagai
pengganti kaisar. Dia memerintah sampai ayahnya meninggal pada 1926. Setelah
ayahnya meninggal, Hirohito menjadi kaisar.
Ketika menjadi kaisar, dia tidak
lagi dipanggil Hirohito. Dia dipanggil “Yang Mulia” atau “Yang Mulia Kaisar”. Dinastinya
disebut “Showa” yang berarti ‘kedamaian dan pencerahan’. Setelah kematiannya
sampai saat ini, Hirohito disebut Kaisar Showa.
Naik Takhta
Walaupun Hirohito punya kekuasaan
penuh di Jepang, dia diajarkan sejak muda bahwa kaisar harus menjauhi urusan
politik. Serahkan saja pada penasihat. Awalnya dia mengikuti saran para penasihatnya. Saat pemerintahannya,
banyak penasihat yang merangkap pemimpin militer. Mereka ingin Jepang menambah kekuatan
dan kekuasaaannya. Hirohito merasa terpaksa mengikuti saran mereka, karena
takut dibunuh.
Salah satu peristiwa besar dalam
kepemimpinan Hirohito adalah invasi Jepang ke Tiongkok. Jepang memang negara
kuat, tetapi kecil. Jepang butuh lebih banyak wilayah dan sumber daya alam.
Pada 1937, Jepang pun menginvasi Tiongkok. Mereka mengambil alih wilayah utara
Mancuria dan menaklukkan kota Nanking, ibukotanya.
Perang Dunia II
Pada 1940, Jepang bersekutu
dengan Jerman dan Italia dalam Pakta Tripartit. Ketiganya secara resmi menjadi anggota
Blok Poros di Perang Dunia II. Agar terus melebarkan pengaruhnya di Pasifik
Selatan, Jepang mengebom pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor. Pengeboman
ini membuat Jepang mengambil alih sebagian besar wilayah Pasifik Selatan.
Awalnya, peperangan ini
menguntungkan Hirohito. Namun, perang berubah mengancam bagi Jepang pada 1942.
Di awal 1945, militer Jepang berhasil dikembalikan ke negara asalnya. Hirohito
dan para penasihatnya menolak menyerah. Pada Agustus 1945, Amerika Serikat
menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima dan Nagasaki. Ratusan ribu orang tewas dalam
peristiwa itu.
Penyerahan Diri
Setelah melihat kehancuran akibat
bom atom, Hirohito sadar satu-satunya cara menyelamatkan Jepang adalah dengan
menyerah. Dia mengumumkan penyerahan diri di radio yang didengarkan seluruh
orang Jepang pada 15 Agustus 1945. Itulah pertama kalinya dia memanggil rakyat
Jepang dan pertama kali suaranya didengar masyarakat.
Seusai perang, banyak pemimpin
Jepang yang dihukum karena kejahatan perang. Beberapa orang sampai dieksekusi karena
perlakuan dan penyiksaan mereka terhadap orang sipil dan tahanan perang. Meskipun
banyak pemimpin negara Sekutu ingin Hirohito dihukum, Jenderal Ameriksa Serikat
Douglas MacArthur memutuskan membiarkan Hirohito menjadi kepala negara.
Hirohito tidak punya kekuatan, tetapi keberadaannya diharapkan dapat menjaga
kedamaian Jepang.
Sampai beberapa tahun kemudian, Hirohito
tetap jadi kaisar Jepang. Dia menjadi kaisar dengan kekuasaan terlama dalam
sejarah Jepang. Dia menyaksikan negaranya pulih dari perang dan menjadi salah
satu negara terkaya di dunia. Hirohito meninggal karena kanker pada 7 Januari 1989.
Artikel ini adalah saduran dari https://www.ducksters.com/history/world_war_ii/hirohito.php
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar