Padahal hampir jam 9, tapi kok Pak Gaban masih di luar? Positif thinking, mungkin habis hujan deras, jadinya murid-murid yang lain juga terlambat. Tapi kamu paling belakang.
Kamu memarkirkan motor di lapangan bawah. Saat itu sudah jam ketiga, waktunya pelajaran Sejarah Indonesia. Bu Nurlela atau lebih akrab disapa dengan Mak Olot sudah berada di kelas dengan baju batik coklat. Di depannya, teman-temanmu sedang menyimak materi Penjajahan Belanda.
Ketika hendak salaman, Bu Nurlela menegurmu, “Kenapa terlambat, Neng? Siapa bilang boleh masuk?”
“Kan hujan, Bu. Saya kehujanan.” Ingin rasanya cerita soal tersesat di dunia lain, tapi tidak mungkin ada yang percaya di saat seperti ini.
“Hah? Hujan dari mana? Dari kapan Gunung hujan, Neng?” Bu Nurlela kelihatan menahan marah. Suaranya mulai meninggi dan kulit mukanya memerah. Kamu belum pernah melihat Bu Nurlela, atau guru manapun, bertindak semarah itu sebelumnya.
Kamu membisu. Tidak hujan? Padahal sederas itu sampai-sampai Pak Emon membuat status Whatsapp longsor di Curahem. Mobil dan motor sampai harus berputar arah ke Picung dan seterusnya.
Kemudian, Bu Nurlela tertawa keras. Seluruh temanmu di dalam kelas juga tertawa. Bahkan ada suara tawa dari kelas di sebelahmu.
Jelas ada yang janggal. Kamu sadar belum keluar dari dunia lain. Sesaat berikutnya, pemandangan berubah gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar