Di depan pos penjaga sekolah, kamu terdiam. Teringat sesuatu yang menyeramkan.
Padahal hampir jam 9, tapi kok Pak Gaban masih di luar? Positif thinking, mungkin habis hujan deras, jadinya murid-murid yang lain juga terlambat. Tapi kamu paling belakang.
Dugaanmu benar. Ternyata banyak siswa yang baru datang. Di belakangmu, ada Pak Asep yang baru menginjakkan kaki di sekolah. Beliau membunyikan klakson, lalu memarkirkan motornya persis di depan ruang guru.
Secepat mungkin kamu bergegas masuk ke kelas. Saat itu jam pelajaran ketiga, yaitu SNU. Sama dengan Bahasa Indonesia, yang mengajar juga Bu Noni. Beliau tampaknya menguasai dengan baik kedua mata pelajaran tersebut.
“Hari ini kita kuis,” beliau mengumumkan, “boleh open book. Nilai tertinggi mendapat hadiah.” Tangannya terarah ke kotak-kotak dengan bungkus kado di atas meja. Ada tiga buah, dan ukurannya sama.
“Yah, Bu. Kenapa mendadak?” protes salah satu anak laki-laki.
“Kan open book.” Bu Noni bangun dari duduknya. “Sudah, namanya juga kuis. Wajar kalau dadakan. Tema kuisnya tidak jauh dari Abad Kegelapan dan Renaisans.”
Beliau membagikan selembar kertas ke tiap siswa. Isinya adalah dua puluh soal pilihan ganda. Untung saja catatan Sejarah-mu lengkap. Hanya perlu 10 menit untuk menjawab soalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar