PUNTEN!

"NGGAK, PAK, PUNTEN!"

Teriakmu dengan nyaring. Seisi pasar menatapmu dengan marah. Tapi, kamu segera menutup mata.

Kamu mengucapkan lafadz basmalah, berlari, lalu berlari sekencang mungkin.

Allahumma inni a’udzubika an adhilla, au adhalla, au adzilla, au udzolla, au adzlima, au udzlama, au ajhala, au yuzhala alayya.

Bibirmu tak berhenti beristighfar. Namun, kamu tidak bisa bohong pada diri sendiri bahwa hatimu ketakutan. Keringat dingin mengucur deras. Kamu merindukan semua orang, termasuk orang tuamu. Bahkan kamu kangen omelan emak yang tiada habisnya.

Saat membuka mata, kamu terkejut karena sudah sampai daerah Cikakak. Tanganmu memegang kendali motor. Hutan-hutan sudah terlewati. Kamu bahkan bisa melihat warung bakso yang belum buka. Tak jauh dari sana ada rumah Pak Rauf.

"Damang, Bu?" sapamu dari motor kepada ibu-ibu random yang sedang menjemur baju. Si ibu menatapmu aneh, tapi balas tersenyum juga. Tidak biasanya kamu menyapa seperti itu. Kamu tiba-tiba menyadari waktunya agak kurang tepat untuk menegur sapa. Tapi setidaknya itu membuktikan kamu sudah di dunia manusia.

Sesampai di pertigaan Gunungkencana, semuanya tampak normal-normal saja. Kamu amat terharu. Kejadian barusan akan kamu ingat seumur hidupmu. Dan agaknya kamu menyesal kenapa pengalaman itu tidak direkam.

Mendekati gerbang sekolah, kamu melihat Pak Gaban sedang mengatur para siswa yang hendak masuk. Kamu menyapa beliau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar