Kamis, 09 Maret 2023

Akar-Akar Nasionalisme Indonesia dan Pengaruhnya pada Masa Kini

Nasionalisme adalah paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Karakteristik paham ini berbeda di setiap negara, tergantung pada latar belakang dan faktor yang mempengaruhi tiap bangsa. Begitupun perkembangannya di Indonesia. Munculnya rasa nasionalisme ini diawali dari peralihan perjuangan fisik menuju perjuangan organisasi (masa pergerakan). Nasionalisme Indonesia memiliki ciri yang berbeda, hal ini karena dipengaruh oleh zeitgeist (Jiwa Zaman).

Nasionalisme makin lama makin kuat peranannya dalam membentuk semua segi kehidupan, baik yang bersifat umum dan pribadi. Dahulu, rasa patuh seseorang ditujukan bukan untuk negara bangsa, melainkan berbagai macam bentuk kekuasaan sosial; seperti organisasi politik atau feodal, kesatuan ideologi seperti klan, suku, dinasti, gereja atau golongan keagamaan.

Bila kita menilik masa lalu yang lebih dekat, sebagai contoh, nasionalisme muncul di Eropa dalam peralihan masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Masa peralihan ini terjadi pada abad ke-18, didahului oleh lahirnya liberalisme dan kapitalisme yang muncul dari Revolusi Industri ke Revolusi Prancis. Untuk menambah pemahaman tentang kedua revolusi tersebut, kalian bisa membacanya dari berbagai sumber baik teks maupun internet. Namun, nasionalisme yang muncul dari masyarakat industri-kapital melahirkan kolonialisme dan imperialisme.

Lain halnya dengan di Eropa, nasionalisme di Asia–Afrika merupakan reaksi terhadap imperialisme dan kolonialisme bangsa barat. Dengan demikian, nasionalisme menjadi gerakan untuk menentang imperialisme dan kolonialisme.


Sekarang, kita kembali pada nasionalisme Indonesia. Lahirnya kesadaran nasional dan tumbuhnya jiwa nasionalisme bangsa Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dari dalam dan faktor dari luar. Adapun pengaruh dari dalam, meliputi.

1. Adanya kesamaan nasib akibat imperialisme dan kolonialisme

Pelaksanaan imperial dan kolonial di wilayah Nusantara menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan bagi bangsa Indonesia. Praktik eksploitasi yang dilakukan tidak hanya meraup keuntungan sebelah pihak, namun juga tidak memberikan timbal balik bagi pribumi untuk memperbaiki kehidupan. Semakin terpojoknya bangsa Indonesia menjadi pendorong munculnya perlawanan dari pihak Indonesia.

2. Kenangan kejayaan masa lalu

Sebelum kedatangan bangsa Eropa ke wilayah Nusantara, terdapat banyak kerajaan besar dan jaya. Misalnya kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur pelayaran dan perdagangan Malaka. Bahkan kerajaan ini mampu melakukan ekspansi ke wilayah Asia Tenggara lainnya. Selain itu, Sriwijaya pernah menjadi pusat perdagangan dan bahkan penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara. Selain itu, kita juga memiliki Kerajaan Majapahit dengan Raja Hayam Wuruk dan dibantu oleh Patih Gajah Mada. Majapahit menjadi kerajaan yang hampir menguasai seluruh wilayah Nusantara. Tentunya, ini menjadi penyemangat bagi bangsa yang sedang menderita di bawah kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa barat pada saat itu.

3. Munculnya kaum terpelajar

Perbaikan pendidikan di tanah jajahan dengan kebijakan Politik Etis melahirkan para pemikir dan penggerak menuju kemerdekaan. Melalui pergerakan organisasi baik sosial dan politik, para pemuda terpelajar memimpin jalannya perjuangan. Pergerakan pelajar tak lagi bersifat kedaerahan, melainkan mulai menyatukan perjuangan dan suara dalam kongres pemuda. Hal ini menjadi bagian awal tumbuhnya nasionalisme di Indonesia.

4. Kemajuan dalam bidang politik, sosial-ekonomi, dan kebudayaan

Nasionalisme di Indonesia juga terpengaruhi oleh perkembangan dalam bidang politik, yakni munculnya gerakan dan partai yang didirikan oleh kaum terpelajar. Praktik kolonial ini seringkali diwarnai dengan politik pemerintahan Hindia-Belanda yang ketat dan kejam. Selain itu, penyalahgunaan kekuasaan dan hak asasi manusia menambah rasa untuk segera mencapai kemerdekaan. Munculnya gerakan dan partai dalam masa pergerakan menjadi saluran aspirasi rakyat.

Pada bidang sosial-ekonomi, nasionalisme muncul dari penghapusan kebijakan ekonomi tanam paksa yang kemudian dialihkan menjadi pembukaan bagi investor asing untuk membuka perusahaannya di tanah jajahan. Dengan adanya perubahan kebijakan ini, pribumi diberikan kebebasan dan kerja sama dengan perusahaan. Kebijakan diharapkan memperbaiki ekonomi pribumi dan mengubah pola pikir dari hanya bertahan hidup, menjadi masyarakat yang memikirkan negara dan bangsa.

Dalam bidang kebudayaan, nasionalisme muncul dari banyaknya kebudayaan yang hilang dan mulai berkurang pada masa kolonial. Hal itu membuat para pejuang di bidang ini berupaya untuk melestarikan dan menyatukan suara untuk tetap berpegang teguh dalam cita-cita menggapai kemerdekaan.


Rasa nasionalisme bangsa Indonesia tumbuh seiring berkembangnya tiga bidang yang dijelaskan di atas. Mulai dari nasionalisme kedaerahan, lalu mengarah pada keseluruhan wilayah untuk menyatakan kemerdekaan. Selain itu, pengaruh dari luar negeri juga cukup besar perannya dalam mempercepat pergerakan politik di Indonesia, antara lain.

1. Kemenangan Jepang terhadap Rusia

Modernisasi telah membawa banyak perubahan terhadap perkembangan negeri dan bangsa Jepang di dunia Internasional pada masanya. Jepang mengalami kemajuan dengan begitu cepat dalam segala bidang kehidupan. Penyerangan Jepang terhadap wilayah Manchuria membuat Jepang berhadapan dengan Rusia, dan ternyata kemenangannya membawa dampak begitu besar terhadap bangsa-bangsa di Asia. Bangsa Asia mulai bangkit menentang penjajahan Barat.

2. Pergerakan Kebangsaan India

Upaya bangsa India dalam menghadapi penjajahan Inggris salah satunya adalah dengan cara mendirikan organisasi kebangsaan yang dikenal dengan nama All India National Congress. Organisasi ini bertransformasi menjadi organ nasionalisme penting di India setelah tahun 1900; yang terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu militan dan moderat.

Militan lebih menekankan pada strategi revolusioner dan kegiatan paramiliter dan moderat, diisi kaum intelektual berpendidikan Barat yang lebih menekankan pada strategi antikekerasan. Di dalam organisasi ini, berisi intelektual berpendidikan Barat yang membawa nasionalisme populer di kalangan rakyat India, seperti Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, Moh. Ali Jinnah, Rajendra Prasad, dan Chakravarti Rajagopalachari.

Dalam menghadapi penjajahan, Mahatma Gandhi menerapkan empat ajaran, yaitu ahimsa (melawan tanpa kekerasan), hartal (mogok kerja), satyagraha (tidak mau bekerjasama dengan pihak asing), serta swadeshi (tidak mau memakai produk luar negeri). Gagasan nasionalisme humanistis Gandhi kemudian menyulut api perjuangan nasionalisme di Asia-Afrika pada awal abad ke-20.

3. Gerakan Kebangsaan Filipina

Gerakan kebangsaan Filipina untuk mengusir penjajah Spanyol dikobarkan oleh tokoh-tokoh pergerakan. Jose Rizal adalah yang paling menonjol. Ia adalah seorang dokter, sastrawan, dan telah menjadi salah satu perintis gerakan nasionalisme Filipina. Meski diyakini tak pernah secara langsung menganjurkan kemerdekaan Filipina, novel dan karya Rizal di surat kabar banyak berisi kritik terhadap Spanyol dan reformasi sosial-politik.

Tidak hanya di Filipina, perjuangan Jose Rizal memberikan pengaruh kebangkitan nasionalisme di beberapa negara Asia Tenggara. Pergerakan di Filipina merupakan nasionalisme pertama di Asia Tenggara.

4. Gerakan Nasionalis Rakyat Cina

Pergerakan Nasionalis rakyat Cina dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen. Dr. Sun Yat Sen yang lahir pada 1866, dikenal sebagai Bapak Republik Cina. Pada masa hidupnya, Cina berada di bawah monarki absolute Dinasti Manchu. Pada masa itu, Cina digambarkan sebagai negara yang miskin, selalu dilanda peperangan di antara para aristokrat yang menambah kesengsaraan rakyat. Bencana alam seperti meluapnya sungai-sungai besar dan menghancurkan daerah-daerah pertanian juga menambah kesengsaraan rakyat. Di samping itu, rakyat tidak mempunyai kebebasan dan keadilan. Hal-hal yang seperti itu telah menggerakkan beberapa orang untuk memperbaiki nasib rakyat dan membentuk pemerintahan yang tidak despotik (sewenang-wenang). Di antara mereka adalah Sun Yat Sen yang mengenal pendidikan Barat. Sun Yat Sen sadar bahwa pemerintahan despotik sudah harus diakhiri kalau ingin memperbaiki nasib negara dan rakyat.

Dasar perjuangan yang dikemukakan oleh Sun Yat Sen adalah San Min Chu I yang terdiri dari:

a) Republik Cina adalah suatu negara nasional Cina.

b) Pemerintah Cina disusun atas dasar demokrasi atau kedaulatan berada di tangan rakyat.

c) Pemerintah Cina mengutamakan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya.

5. Pergerakan Turki Muda

Gerakan Turki Muda di Turki dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha pada 1908. Ia menuntut pembaharuan dan modernisasi di segala sektor kehidupan masyarakat. Visi perjuangan Mustafa Kemal Pasha antara lain (1) pemulihan seluruh wilayah kekuasaan Ottoman, (2) pembentukan Turki sebagai sebuah Republik yang bebas dan berdaulat, (3) sekuralisasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, (4) modernisasi seluruh bidang kehidupan Turki, dan (5) memerdekakan diri dari bangsa asing.

6. Pergerakan Nasionalisme Mesir

Gerakan ini dipimpin oleh Arabi Pasha dengan tujuan menentang kekuasaan bangsa Eropa, terutama Inggris, atas negeri Mesir. Kebangkitan nasional Mesir ditandai dengan adanya pemberontakan Arabi Pasha (1881—1882). Pemberontakan Arabi Pasha merupakan tonggak dari lahirnya nasionalisme Mesir.


Rangkuman

  • Nasionalisme adalah paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa, memiliki rasa solidaritas setanah air, persatuan, dan kesatuan.
  • Bangkitnya nasionalisme di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari bangkitnya nasionalisme di Asia. Namun timbulnya pergerakan nasioal itu tidak hanya disebabkan oleh pengaruh-pengaruh dari luar Indonesia, tetapi juga karena reaksi bangsa Indonesia terhadap kolonial.
  • Pengaruh dari dalam, antara lain: adanya kesamaan nasib akibat imperial dan kolonialisme, kenangan kejayaan masa lalu, munculnya kaum terpelajar, dan kemajuan dalam bidang politik, sosial-ekonomi, dan kebudayaan. Sedangan pengaruh dari luar, antara lain: kemenangan Jepang terhadap Rusia, pergerakan Kebangsaan India, Gerakan Kebangsaan Filipina, Gerakan Nasionalis Rakyat Cina, Pergerakan Turki Muda, dan Pergerakan Nasionalisme Mesir. Saling keterkaitan pengaruh dari dalam dan pengaruh dari luar menyuburkan pertumbuhan nasionalisme bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar