Minggu, 05 Maret 2023

Respons Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme dalam Bidang Pendidikan

Sistem pendidikan pemerintah Belanda menggunakan metode Barat dengan menyediakan sekolah, metode kurikulum, serta guru pengajar dengan jadwal yang teratur. Awalnya, sekolah yang telah didirikan berupa sekolah gubernemen di tiap-tiap kabupaten ataupun kota besar. Sekolah tersebut didirikan di tahun 1840-an serta diperuntukkan untuk masyarakat pribumi dari golongan masyarakat menengah atau anak pegawai pemerintah.

Guna menyiapkan tenaga guru pengajar, didirikanlah sekolah guru atau disebut kweekschool di kota Sala pada tahun 1852, kemudian di kota Bandung dan kota Probolinggo pada tahun 1866. Pelajar lulusan sekolah tersebut akan ditempatkan di beberapa sekolah-sekolah gubernemen. Bahasa sehari-hari yang digunakan di dalam aktivitas persekolahan menyesuaikan lokasi sekolah.

Karena rasa ketidakpuasaan pada pendidikan Belanda yang cenderung mahal dan eksklusif, banyak orang biasa yang tidak bisa mendapatkan pendidikan. Akhirnya muncul sekolah tandingan, sebagai respons bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda dalam bidang pendidikan. Sekolah tandingan itu adalah sebagai berikut.

a. Taman Siswa

Setelah pulang dari pengasingan bersama dengan rekan-rekannya di Indische Partij (IP), Ki Hadjar Dewantara—bernama asli Suwardi Suryaningrat—mendirikan sebuah perguruan bercorak Nasional yang bernama Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Taman Siswa).

Tujuan pendidikan Tamansiswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang (1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) merdeka lahir batin, (3) luhur akal budinya, (4) cerdas dan berketerampilan, serta (5) sehat jasmani dan rohani untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.

Hingga kini, Taman Siswa sangat dikenal sebagai lembaga pendidikan yang menasional. Akan tetapi, kini nama Taman Siswa agak surut. Tidak semata-mata karena semakin banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang kompetitif, namun juga karena tampaknya Taman Siswa sendiri kehabisan energi pembaruan pendidikan.

Setelah didirikannya pada tanggal 3 Juli 1922, Taman Siswa terus berkembang hingga berperan dalam menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Meskipun menggunakan sistem pendidikan modern Belanda, Taman Siswa tidak mengambil kepribadian Belanda. Dengan demikian, anak didiknya tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Guru Taman Siswa umumnya berasal dari para aktivis pergerakan nasional yang bercita-cita memerdekakan bangsa Indonesia.

Meskipun mendapat beberapa kali tawaran bantuan dana dari pemerintah Belanda, Ki Hadjar Dewantara menolaknya, dengan dalih independensi pendidikan. Sempat terdapat kebijakan pihak Belanda untuk menutup Taman Siswa, tetapi kegigihan Ki Hadjar Dewantara menggagalkannya.

Taman Siswa mewariskan semboyan pendidikan yang sampai saat ini tetap dipegang bangsa Indonesia, yaitu:

a. Ing ngarso sung tuladha artinya ‘dapat memberi teladan’.

b. Ing Madya Mangun Karsa artinya ‘menjadi penyemangat’.

c. Tut Wuri Handayani artinya ‘memberi dorongan’.

Berkat perannya, Ki Hadjar Dewantara dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Selain itu, hari lahir Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 2 Mei tiap tahun diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional.


b. INS Kayutanam

Moh. Syafei seorang yang berdarah Minang dilahirkan di Kalimantan Barat, tepatnya di daerah Natan, tahun 1895. Anak dari Mara Sutan dengan Indung Khadijah. Ia menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat tahun 1908, masuk sekolah Raja (Sekolah Guru) lulus pada tahun 1914. Kemudian, ia hijrah ke Jakarta dan menjadi guru pada sekolah Kartini selama 6 tahun. Disela-sela kesibukannya, ia menyempatkan diri untuk belajar menggambar dan lulus tahun 1916, bahkan aktif dalam Budi Utomo serta Insulide, serta membantu Wanita Putri Merdeka.

Moh. Syafei pada tanggal 31 Mei 1922 berangkat ke negeri Belanda menempuh pendidikan atas biaya sendiri. Belajar selama tiga tahun dengan memperdalam ilmu musik, menggambar, pekerjaan tangan, sandiwara, termasuk memperdalam pendidikan dan keguruan. Pada tahun 1925 kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmu pengetahuannya.

Berikut ini adalah perkembangan INS Kayutanam yang dikelolanya.

1) Masa Awal RP INS Kayutanam

Kayutanam adalah nama desa kecil di Sumatera Barat, sedangkan INS adalah sebuah lembaga pendidikan; akronim dari Indonesche Nederlandsche School. Cikal bakal sekolah ini adalah milik jawatan kereta api yang dipimpin oleh ayahnya. Tanggal 31 Oktober 1926 sekolah ini diserahkan kepada M. Syafei dan kemudian tersohor dengan nama Ruang Pendidikan Indonesche Nederlandsche School (RP INS) Kayutanam.

Pada awal didirikan, Ruang Pendidik INS mempunyai asas-asas sebagai berikut :

  • Berpikir logis dan rasional
  • Keaktifan atau kegiatan
  • Pendidikan masyarakat
  • Memperhatikan pembawaan anak
  • Menentang intelektualisme

2) Zaman Penjajahan Belanda

RP INS kayutanam tahun 1926 memiliki 75 orang siswa terdiri atas dua kelas (1A dan 1B) dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Gedung sekolah RP INS Kayutanam dibangun sendiri oleh siswa tahun 1927, terbuat dari bambu beratap rumbia. Karena membutuhkan lahan luas, pada tahun 1937 sekolah ini dipindahkan ke Pelabihan, dua kilometer dari Kayutanam dan selesai pada tahun 1939. Kemajuan terus tercapai dengan:

  1. terbangunnya asrama dengan kapasitas 300 orang dan tiga perumahan guru,
  2. murid 600 orang,
  3. satu tempat peristirahatan.

3) Zaman Penjajahan Jepang

Tahun 1941, INS diduduki secara paksa oleh Belanda dan proses pembelajaran terhenti. Setelah Jepang menang tahun 1942, RP INS berubah terjemahannya menjadi Indonesche Nippon School. Di zaman ini, pembelajaran merosot tajam disebabkan sulitnya memperoleh alat-alat pelajaran dan para siswa dialihkan untuk bekerja serta berlatih demi kepentingan perang Jepang.

4) Zaman Kemerdekaan

Nama INS tetap dipakai, tetapi sebagai singkatan dari Indonesia Nasional School. Pada masa kemerdekaaan, Kayutanam mengalami perkembangan ini dilihat dari:

▪ Atas ijin pemerintah, Kayutanam mendirikan ruang pendidikan pengajaran dan kebudayaan di bekas kantor penyelidikan di Padang Panjang. Perpustakaannya pada masa itu memiliki koleksi buku sebanyak 23.000 buah.

▪ Pada tahun 1952, INS mendirikan percetakan dan penerbitan sendiri yang bernama Sridharma, dan menerbitkan majalah bulanan Sendi, serta mengarang buku Kunci 18 untuk memberantas buta huruf.

▪ Pada tanggal 31 Oktober 1952, INS dijadikan SGBN Istimewa. Keistimewaan ini terletak pada:

a. Moh Syafei tidak 100% terikat oleh peraturan-peraturan pemerintah.

b. Murid-murid INS berasal dari seluruh Indonesia.

c. Pelajaran yang diutamakan adalah ekspresi, seperti menggambar, musik, tari-tarian, pekerjaan tangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar