Minggu, 05 Maret 2023

Respons Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme dalam Bidang Sosial-Budaya

Kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia banyak berdampak terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat Indonesia, antara lain.

  • Terciptanya kelas sosial dalam masyarakat. Bangsa Eropa dianggap sebagai kelas tertinggi, disusul oleh Asia Timur Jauh, dan terakhir golongan Bumiputra (pribumi). Golongan Bumiputera mendapat perlakuan diskriminatif, sedangkan keistimewaan diberikan pada golongan Eropa dan Timur Asing.
  • Terjadinya perubahan berbagai ritual dan tradisi kuno di istana-keraton maupun di masyarakat. Tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, seperti upacara dan adat yang berlaku dalam lingkungan istana menjadi sangat sederhana, bahkan cenderung dihilangkan. Tradisi tersebut perlahan-lahan digantikan oleh tradisi pemerintah Belanda.
  • Mundurnya aktivitas perdagangan laut. Daerah Indonesia pada saat abad ke-17 masih banyak bergantung pada aktivitas di tepi laut, sehingga perubahan aktivitas perdagangan berdampak pada kehidupan di pedalaman. Kemunduran perdagangan di laut secara tak langsung menimbulkan budaya feodalisme di pedalaman. Di bawah prinsip feodalisme, rakyat Bumiputera dipaksa untuk tunduk/patuh pada tuan tanah Barat/Timur Asing.
  • Masuknya agama Katolik dan Protestan. Kedatangan Belanda membawa pengaruh Protestan, sedangkan kedatangan Portugis dan Spanyol memperkenalkan agama Katolik.

Dampak tersebut, akhirnya menimbulkan respons bangsa Indonesia dalam bidang sosial-budaya. Disajikan dalam poin-poin berikut.

a. Respon dalam bentuk karya sastra

Karya sastra era pra-kemerdekaan mempunya ciri khas, yang membentuk sebuah identitas nasional. Umumnya, karya-karya tersebut menggunakan bahasa Melayu, yang kelak digunakan sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Pada periode awal abad ke-20, muncul para sastrawan terkenal. Salah satunya adalah Mohammad Yamin (1903—1964) yang mulai menulis sajak-sajak modern pada tahun 1920—1922. Ada pula Marah Roesli (lahir 1898) yang menulis sebuah novel legendaris berjudul Siti Nurbaya, menceritakan kisah cinta tragis akibat benturan antara nilai-nilai modern dan tradisional. Selain itu, Sanusi Pane (1905-1968) juga menulis puisi modern dan merupakan sastrawan berpengaruh khususnya di bidang pengembangan kebudayaan yang berakar dari kebudayaan pra-Islam.

Dalam era ini, ada pula Mas Marco Kartodirdjo yang menulis buku yang berjudul Student Hidjo (1919). Buku itu menceritakan kehidupan Hidjo, seorang pemuda dari kalangan priyai rendahan yang berhasil meraih prestasi di sekolahnya dan bisa melanjutkan belajar ke negeri Belanda. Buku lainnya yaitu yang berjudul Rasa Merdika (1924), menceritakan seorang pemuda yang selalu berkonflik dengan ayah yang dianggapnya sebagai kaki-tangan pemerintahan Belanda.

Berbagai karya sastra ini, meskipun dicetak menggunakan percetakan milik pemerintah Belanda (Balai Pustaka), ternyata turut mempertahankan identitas budaya-budaya daerah. Karya-karya sastra ini turut menyumbang gagasan cara hidup modern di abad ke-20, kesehatan pribadi, hingga emansipasi wanita.

Aktivitas-aktivitas budaya dan politik ini membawa persatuan Indonesia, yang tercermin dalam Kongres Pemuda II. Dalam kongres tersebut, tercetus Sumpah Pemuda yang diinisiasi para pemuda dari berbagai suku dan etnis. Untuk memperingati kongres yang diselenggarakan tahun 1928 ini, Moh. Yamin menulis sekumpulan sajak yang diterbitkan pada tahun 1929, berjudul “Indonesia Tumpah Darahku”. Sajak tersebut menggambarkan keyakinan di kalangan kaum terpelajar Indonesia bahwa pertama-tama mereka adalah orang Indonesia, baru setelah itu mereka adalah orang Minangkabau, Batak, Jawa, Kristen, Islam dan lain-lain.

b. Respons dalam bentuk karya seni musik

Berkembangnya seni musik bernuansa dan menggelorakan perjuangan juga merupakan salah satu respons bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda. Salah satu tokoh seni musik era perjuangan adalah Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki merupakan musisi pemberontak di zamannya. Ketika pemerintah kolonial Belanda memberlakukan pembatasan hak untuk berserikat dan berkumpul (vergader verbod) terhadap organisasi-organisasi kebangsaan, dan rakyat dilarang keras mendengarkan lagu-lagu mars partai politik dan kebangsaan, jiwa Ismail memberontak. Pembatasan oleh pemerintah kolonial tersebut bertujuan untuk menjaga keamanan dan ketertiban agar kekuasaanya di Indonesia langgeng.

Saat itu pula, Belanda sedang mengalami kekacauan. Menurut Firdaus Burhan dalam bukunya yang berjudul Ismail Marzuki: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1983: 22), Ismail telah menciptakan sejumlah lagu yang mampu membakar semangat bangsa. Di antaranya lagu berjudul Banyu Biru, Bintangku, Ani-ani, Potong Padi, Kroncong Sukapuri, Arjuna Rimba Malam Kemilau, Siapakah Namanya, Sederhana, dan Kroncong. Lagu-lagu tersebut menceritakan keadaan Indonesia di bawah jajahan Belanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar