Minggu, 05 Maret 2023

Respons Bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme dan Imperialisme dalam Bidang Politik

Imperialisme dan kolonialisme di Indonesia mengakibatkan dampak nyata: aktivitas pemerintahan berpusat di Pulau Jawa. Hal ini akhirnya terbawa sampai sekarang. Meskipun saat ini pemerintah sudah melakukan desentralisasi, tetap saja terasa bahwa wilayah Jawa menjadi pusat pemerintahan.

Tentu, saat pemerintah kolonial Belanda menguasai Indonesia, tidak sedikit menimbulkan perlawanan. Salah satunya adalah perlawanan secara politis. Kebanyakan rakyat bergerak melalui organisasi dalam maupun luar negeri. Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa Pergerakan Nasional (1908–1942) dibagi dalam tiga tahap berikut.

  1. Masa penyusunan (1908 – 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.
  2. Masa radikal/nonkooperasi (1920 – 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
  3. Masa moderat/kooperasi (1930 – 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

Dalam materi ini, diambil masing-masing dua contoh organisasi pergerakan nasional dari periode berbeda, yaitu Budi Utomo dan Sarekat Islam mewakili masa penyusunan, Perhimpunan Indonesia dan PNI mewakili masa radikal/non kooperasi,dan Parindra serta GAPI mewakili masa moderat/loperasi. Sebagai informasi, organisasi-organisasi Pergerakan Nasional dapat dilihat secara singkat pada gambar ini.

a. Organisasi Budi Utomo

Berdirinya Budi Utomo menandai kebangkitan nasional bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan sekaligus penanda perkembangan nasionalisme Indonesia—meskipun pendirian organisasi awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Hingga saat ini, tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Budi Utomo (Boedi Oetomo) ialah organisasi yang didirikan tahun 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA; Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Wahidin Sudirohusodo merupakan penggagas Budi Utomo dan namanya selalu dikaitkan dengan sejarah Budi Utomo ataupun sejarah berdirinya Budi Utomo.

Budi Utomo dipelopori oleh para pemuda dari STOVIA, Sekolah Guru Bandung, Sekolah Pamong Praja Magelang dan Magelang, Sekolah Peternakan dan Pertanian Bogor, dan Sekolah Sore untuk Orang Dewasa di Surabaya. Para pelajar tersebut terdiri dari Soeradji, Muhammad Saleh, Soewarno A, Goenawan Mangoenkoesoemo, Suwarno B., R. Gumbreg, R. Angka, dan Soetomo. Baca juga pahlawan nasional dari Jawa, pahlawan nasional dari Madura, dan biodata pahlawan kemerdekaan dari berbagai daerah di Indonesia.

Nama organisasi Budi Utomo diusulkan oleh Soeradji dan semboyannya ialah Indie Vooruit (Hindia Maju) dan bukan Java Vooruit (Jawa Maju). Budi Utomo terdiri atas kata budi yang berarti ‘perangai’ atau ‘tabiat’ dan utomo yang berarti ‘baik’ atau ‘luhur’. Perkumpulan Budi Utomo dapat dimaknasi sebagai ‘perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan keluhuran budi dan kebaikan perangai atau tabiat’.

Tujuan Budi Utomo yakni memperoleh kemajuan yang harmonis bagi nusa dan bangsa Jawa serta Madura. Pada awalnya, Budi Utomo hanya mengendaki perbaikan sosial yang meliputi Jawa dan Madura, sehingga kata kemerdekaan belum disebut. Usaha yang dilakukan demi tujuan tersebut yaitu memajukan pengajaran sesuai dengan yang dicita-citakan oleh dr. Wahidin: peternakan, pertanian, perdagangan, teknik, industri, dan menghidupkan kembali kebudayaan.

b. Sarekat Islam (SI)

Kita kerap mendengar seruan untuk menjauhkan Islam dari gerakan politik. “Jangan gunakan Islam sebagai alat politik”, begitu kira-kira seruan mereka. Mereka menginginkan Islam diisolasi di ruang “netral”.

Sebetulnya ruang netral itu tidak ada, sebab hampir semua ruang kehidupan manusia itu terkait dengan politik. Dan memang, jika kita menengok ke masa silam, Islam tidak berjarak dengan politik. Itu terjadi pada permulaan abad ke-20, bersamaan dengan kebangkitan perlawanan rakyat Indonesia menentang kolonialisme.

Di awal abad ke-20, terdapat organisasi sosial-politik yang sangat mencolok, yaitu Sarekat Islam. Organisasi massa terbesar di zamannya. Tjokroaminoto, pimpinan SI yang kerap disebut “Raja Jawa”, mengklaim jumlah anggotanya mencapai dua juta orang.

Sumber resmi mengatakan, SI lahir dari perkumpulan kaum pribumi yang mengamankan Laweyan, daerah hunian saudagar batik di Solo. Pendirinya bernama Haji Samanhudi. Awalnya, organisasi itu berawal dari organisasi ronda bernama “Rekso Roemekso”. Pendapat ini diperkuat oleh Takashi Shiraishi dalam bukunya, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat Di Jawa (1912—1926).

Versi lain yang lebih akurat menyatakan, SI berasal dari organisasi yang sebelumnya bernama Sarekat Dagang Islamiyah (SDI). Pendirinya adalah seorang bekas murid STOVIA yang terbakar api nasionalisme Tiongkok, Tirto Adhi Soerjo, pada tahun 1909. Pendapat ini diusung oleh Pramoedya Ananata Toer dalam tetralogi bagian ketiganya, Jejak Langkah. Namun, pada tahun 1913, sebagai upaya menjegal perkembangan SDI, penguasa kolonial membuang Tirto ke Ambon. Kepengurusan SI pun berpindah ke Haji Samanhudi dan kegiatannya berpusat di Solo.

Pendapat Pram itu hampir sejalan dengan pendapat Bung Hatta saat menyampaikan ceramah berjudul “Dari Budi Utomo menuju Sarekat Islam” di gedung Kebangkitan Nasional tanggal 22 Mei 1974. Menurut Bung Hatta, pendiri SDI adalah Tirto di Batavia tahun 1909. Tirto kemudian melakukan tur keliling jawa, termasuk Solo. Dengan demikian, SDI Solo yang diketuai Haji Samanhudi adalah cabang SDI-nya Tirto Adhisuryo.

SDI di bawah Haji Samanhudi terus berkembang. Sayang, Haji Samanhudi tidak bisa mengendalikan organisasi yang terus berkembang itu. Ia juga tak kuasa melawan tekanan penguasa kolonial. Akhirnya, pada tahun 1912, kepemimpinan SI diserahkan kepada Tjokroaminoto, seorang teknisi di pabrik gula Rogojampi. Pusat kegiatan SI pun dipindahkan ke Surabaya. Namanya pun berubah menjadi Sarekat Islam (SI).

c. Perhimpunan Indonesia

Selain rakyat yang ada di daerah kita, jiwa nasionalisme juga timbul dari luar negeri. Para mahasiswa yang sedang belajar di Belanda, pada tahun 1908, membentuk Indische Vereeniging. Pada mulanya, mereka membentuk ini atas dasar sosial. Namun, seiring berjalannya waktu, namanya berubah menjadi Indonesia Vereeniging pada tahun 1922. Mereka pun semakin melebarkan sayapnya dan memasuki dunia politik. Gagasan-gagasannya disalurkan lewat majalah Hindia Putra. Sampai akhirnya, tiga tahun kemudian, mereka menjadi lebih radikal dan mengganti namanya menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Mereka secara tegas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

d. Partai Nasional Indonesia (PNI)

Berdirinya partai-partai dalam pergerakan nasional banyak bermula dari klub studi, salah satunya Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club. Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh kondisi sosiopolitik yang rumit. Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat untuk membentuk kekuatan baru dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Pada permulaan berdirinya, PNI berkembang benar-benar cepat karena didukung oleh elemen-faktor berikut.

  1. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.
  2. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
  3. Propagandanya menarik dan memiliki orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno).

Untuk mengobarkan motivasi perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan pengorbanan PNI. Trilogi hal yang demikian mencakup (1) kesadaran nasional, (2) kemauan nasional, dan (3) perbuatan nasional. Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menerapkan asas adalah self-help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy—sikapnya kepada pemerintah juga antipati dan nonkooperasi. Dasar perjuangannya yaitu marhaenisme. Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama diadakan di Surabaya, tanggal 27 – 30 Mei 1928.

Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Menyadari perlunya pernyataan semua potensi rakyat, PNI memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI dicontoh oleh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club.

Melihat PNI pesat menarik massa, pemerintah kolonial Belanda betul-betul cemas. Pengawasan kepada aktivitas politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan tindakan-tindakan penggeledahan dan penangkapan. Dengan berkembangnya desas-desus bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan, empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap dan dijatuhi sanksi oleh pengadilan Bandung. Dalam proses peradilan itu, Ir. Soekarno melaksanakan advokasi yang diberikan judul “Indonesia Menggugat”.

Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan pukulan berat dan menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam suatu kongres luar umum yang diadakan di Jakarta pada tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran ini memunculkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo. Mereka yang tak setuju dengan pembubaran dan usulan Sartono, lantas mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Baik Partindo maupun PNI-Baru, masih menerapkan asas PNI yang lama yaitu selfhelp dan nonkooperasi. Lewat di antara keduanya terdapat perbedaan dalam hal strategi perjuangan. PNI-Baru lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial, sedangkan Partindo mengutamakan aksi massa sebagai senjata yang tepat untuk mencapai kemerdekaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar