Minggu, 23 Juli 2023

Struktur dan Unsur Kebahasaan Ceramah

Struktur Ceramah

Secara umum, struktur ceramah adalah pembuka/pendahuluan, isi, dan penutup. Bila dijabarkan lebih terperinci, tiga struktur tersebut bisa dibagi lagi, seperti di bawah ini. Meskipun demikian, struktur ini sejatinya tidak mutlak. Urutannya bisa ditukar dan salah satu bagiannya bisa ditambah atau dihilangkan.

1. Pendahuluan

a. Salam pembuka

    Mulailah ceramah dengan salam, disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Kita  dapat menyebut satu atau banyak salam dari banyak agama sekaligus, untuk menunjukkan kita menghargai semua kalangan.

  • Assalamualaikum (Islam)
  • Shalom (Kristen dan Katolik)
  • Oom swastiastu (Hindu)
  • Namo Buddhaya (Buddha)
  • Salam Kebajikan (Konghucu)

b. Sapaan

    Setelah salam, gunakan sapaan untuk menunjukkan kita menyambut para hadirin. Dengan merasa disambut, pendengar ceramah bisa lebih senang mendengar ceramah kita. Dahului sapaan dengan, “Selamat …” disesuaikan dengan waktu acara. Lalu, lanjutkan dengan penghormatan seperti, “Para hadirin yang saya hormati”, “siswa/siswi yang saya banggakan”, dan sebagainya menyesuaikan dengan kalangan pendengar dan posisi kita sebagai pembicara.

c. Puji syukur

    Jangan lupa memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan. Tanpa rida-Nya, kita mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mengisi ceramah atau bahkan menyelenggarakan acara. Bagian ini penting juga karena kita tinggal di negara yang mengedepankan agama.

2. Isi

a. Topik ceramah

    Sebelum masuk ke dalam pembahasan, penceramah biasanya menyebutkan secara langsung topik apa yang hendak dibahas. Contoh kalimatnya adalah, “Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk membahas masalah Bakti kepada Orang Tua.” Penggalan ini menunjukkan bahwa topik ceramah adalah tentang bakti kepada orang tua.”

b. Isi ceramah

    Bagian topik langsung dilanjutkan dengan isi ceramah. Pada bagian ini, penceramah biasanya akan memaparkan masalah terkait topik ceramah. Bila topiknya adalah menjaga keharmonisan rumah tangga, penceramah dapat memulai isi ceramah dengan menjabarkan kasus perselingkuhan dan skandal orang ketiga yang terjadi baru-baru ini. Berikan pendapat berdasarkan data dan fakta yang jelas. 

    Setelah masalah, lanjutkan ceramah dengan solusi. Gunakan kalimat-kalimat ajakan agar pesan kita bisa lebih mudah diterima oleh pendengar.

c. Simpulan

    Sampaikan kembali poin-poin penting permasalahan dan solusi yang sudah dibahas. Tujuannya untuk mengingatkan pendengar atas hal yang mungkin terlewat.

3. Penutup

a. Harapan

    Bagian ini mirip dengan doa. Berikan doa yang baik untuk pendengar. Pembicara juga dapat berharap para hadirin mendapatkan manfaat dari ceramah, dan lebih baik lagi jika mampu mengamalkan, misalnya, “Semoga kita bisa senantiasa konsisten dalam menjalankan perintah agama” atau, “Mudah-mudahan ceramah ini bermanfaat bagi Bapak dan Ibu sekalian. Semoga kita semua terhindar dari kemaksiatan.”

b. Ungkapan maaf dan terima kasih

    Ini adalah salah satu tata krama yang penting. Ucapkan permintaan maaf karena isi ceramah atau kata-kata kita mungkin telah menyinggung perasaan orang lain. Jangan lupa berterima kasih karena para hadirin, dengan bersedia mendengarkan ceramah, telah mengorbankan waktu mereka yang berharga.

c. Salam penutup

    Tutup ceramah dengan salam. Bisa salah satu atau banyak salam beberapa agama sekaligus. Khusus untuk salam menurut Islam, gunakan, “Wassalamualaikum warrahmatullahiwabarakaatuh.


Unsur Kebahasaan Ceramah
    Ceramah lebih berfokus kepada keterampilan berbicara. Oleh karena itu, unsur kebahasaannya relatif berbeda dari prosedur dan eksplanasi dari materi sebelumnya. Unsur kebahasaan ceramah adalah sebagai berikut.
1. Menggunakan kata ganti orang pertama tunggal (saya) dan jamak (kita)
    Ceramah menggunakan “saya” sebagai kata ganti pembicara. Kata “kita” juga banyak digunakan untuk menunjukkan kesan sopan dan mengajak. Seperti dalam contoh berikut.
… Hadirin yang dirahmati Allah SWT, pada kesempatan ini, izinkan saya bercerita mengenai pentingnya menuntut ilmu. Tentu kita sadar, dengan ilmu pengetahuan kita akan mendapatkan pemahaman. Salah satunya betapa pentingnya menuntut ilmu sebagaimana telah diberikan contoh Allah melalui firman pertama yang turun. Bahwasanya Allah mengajari Nabi Muhammad SAW untuk membaca.
2. Menggunakan kata yang menunjukkan sebab-akibat
   Kata-kata ini biasanya terdapat di bagian isi ceramah, tepatnya bagian pendapat. Pendapat memerlukan unsur sebab-akibat yang jelas agar bisa meyakinkan pembaca. Unsur sebab-akibat itu ditandai dengan penggunaan kata-kata seperti dampaknya, dengan demikian, karena, akibat, disebabkan, diakibatkan, oleh karena itu, oleh sebab itu, dan jika … maka. Perhatikan contoh berikut!
… Dampak negatif lain dari kemajuan teknologi adalah banyak terjadi penyebaran berita bohong menggunakan media sosial. Dan yang paling penting adalah bahwa kini korbannya adalah para ibu-ibu rumah tangga. Karena terlalu sering main ponsel genggam, mereka menjadi susah untuk membedakan mana hal yang nyata dan mana yang hanya berita gosip saja. Oleh karena itu, kita seharusnya bijak dalam menggunakan teknologi. 
3. Menggunakan kata yang bersifat mengajak (persuasif)
Contoh kata-kata ini adalah marilah, seharusnya, sebaiknya, harus, perlu, dan sebagainya.
4. Menggunakan kalimat retoris
Kalimat retoris berarti kalimat mengandung retorika. Retorika adalah pertanyaan atau pernyataan yang sudah umum diketahui masyarakat  (common sense). Pertanyaan retoris tidak memerlukan jawaban, sedangkan pernyataan retoris berfungsi menegaskan pesan. Dalam ceramah, kalimat retoris biasanya menggunakan bahasa yang cenderung emosional.
Contoh kalimat retoris
  1. Kita tidak bisa diam saja melihat saudara-saudara kita dizalimi!
  2. Kalau begini terus, kapan kita bisa maju?
  3. Saya tidak habis pikir dengan perilaku mereka terhadap kita.
  4. Seharusnya kita semua bersyukur karena di belahan dunia yang lain, masih ada orang yang tidak bisa makan.

Langkah-Langkah Menyusun Ceramah
Berikut ini adalah beberapa langkah menyusun ceramah secara umum. Langkah-langkah ini tidak mutlak. Bisa diikuti, bisa juga tidak.
1. Mengukur pengetahuan dan minat pendengar
Dari sumber lain, saya menemukan bahwa mencari topik adalah langkah pertama. Namun bagi saya, mengetahui tujuan dan target ceramah sebaiknya didahulukan. Topik harus sesuai dengan pengetahuan dan minat pendengar, serta disesuaikan dengan momen. Jika tidak, pendengar mungkin enggan mendengarkan ceramah kita. Jangan sampai, misalnya, kita berbicara tentang memelihara rumah tangga di depan audiens yang sebagian besar siswa SMA.
2. Menentukan topik
Sebaiknya, topik adalah ilmu yang benar-benar kita kuasai dan sukai—sesuatu yang sanggup kita bicarakan dalam waktu lama. Cari jalan tengah antara minat kita dengan minat pendengar. Topik juga disarankan mengandung permasalahan aktual dan bermanfaat.
3. Menyusun kerangka ceramah
Kerangka ceramah berisi poin-poin penting pembahasan ceramah. Bagian ini penting jika kita hendak berceramah menggunakan metode naskah, hafalan, atau impromptu. Kerangka seperti rencana ceramah, berfungsi mengarahkan kita untuk menuliskan versi ceramah yang lebih lengkap. Kerangka ceramah yang baik berisi pendahuluan, isi, dan penutup. Jangan mengulang pembahasan.
4. Menyusun Ceramah Berdasarkan Kerangka
Selanjutnya, kembangkan kerangka menjadi ceramah yang utuh. Bersamaan dengan itu, kumpulkan data dan fakta terkait dengan topik ceramah. Pilih baik-baik mana yang dapat dimasukkan ke dalam ceramah, jangan sampai kita menebarkan informasi bohong atau hoaks. Penceramah harus bertanggung jawab atas apa yang disampaikannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar