Pengertian Cerpen
Cerpen (cerita pendek) adalah karangan yang pendek, biasanya terdiri atas 1.000–10.000 kata. Kurang dari 1.000 kata, karangan masih bisa disebut cerpen, hanya saja lebih spesifik penyebutannya menjadi “fiksi kilat”. Sementara jika jumlah katanya lebih dari 10.000, cerita sudah masuk ke dalam kategori novelet (novel pendek).
Ibaratnya, novel menceritakan kisah hidupmu dari bayi sampai dewasa. Pada rentang masa itu, tentunya kamu menemui berbagai masalah kehidupan. Sementara itu, cerpen menceritakan salah satu kejadian penting dalam hidupmu, misalnya hari pertama masuk Madrasah Aliyah. Keduanya sama-sama mengisahkan kehidupan dirimu.
Sampai sini, apakah kamu memahami perbedaan antara cerpen dan novel?
Singkatnya, cerpen adalah versi singkat dan sederhana dari novel. Kalau membaca novel memerlukan waktu yang lama, cerpen umumnya dibaca hanya sekali duduk.
Nilai-Nilai Kehidupan dalam Cerpen
Pengetahuan tentang nilai-nilai kemanusiaan tidak hanya didapat dari bergaul, bisa juga diperoleh dari banyak membaca tulisan fiksi, termasuk cerpen. Hal itu karena cerita fiksi banyak mewakili pengalaman seseorang atau masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Bahkan, keadaan masyarakat dari suatu masa bisa dilihat dari karya-karya fiksi yang dihasilkan.
Nilai sendiri sederhananya adalah sesuatu yang berharga dan penting bagi masyarakat. Dalam cerita fiksi, termasuk cerpen, terdapat beberapa nilai kehidupan, antara lain.
a. Nilai Sosial, yaitu nilai yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat. Bentuk termudah nilai sosial adalah etika. Nilai ini tidak selalu sama antara masyarakat satu dengan yang lain. Contoh nilai sosial masyarakat Indonesia adalah lebih menghormati orang-orang yang lebih tua. Orang tua dianggap lebih banyak pengalamannya. Sehingga, orang tua mendapatkan perlakuan khusus. Di negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat, nilai ini tidak berlaku.
“Mau kemana kau, Bujang?” sapa penjual tebu yang berteduh di bawah patung pejuang 45 itu. Malas aku menjawabnya. Karena ia selalu menanyakan hal yang sama padaku, setiap kali aku melintas di situ.”
Kutipan di atas mengandung nilai sosial yaitu menyapa orang yang lewat dengan pertanyaan, “Mau ke mana?” Nilai ini “sangat Indonesia”—jika kamu menanyakan hal yang sama ke orang-orang negara lain, kamu akan diabaikan, karena mereka tidak terbiasa disapa dengan pertanyaan seperti itu.
b. Nilai Moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan baik dan buruk. Nilai ini berlaku di seluruh dunia. Contohnya, berbicara jujur itu hal yang benar, sedangkan berbohong adalah hal yang salah. Di manapun kamu berada, nilai moral ini tetap berlaku.
“Namun, di sekolah, Amir mengalami cobaan yang sulit. Ada sekelompok teman sekelas yang suka melakukan intimidasi terhadap anak-anak lain. Mereka suka memperolok, menjuluki, dan mengganggu teman-teman mereka yang lebih lemah. Amir melihat bagaimana teman-temannya menderita akibat perlakuan tersebut.”
Kutipan di atas mengandung nilai moral tentang keburukan. Mengintimidasi dan mengolok-olok orang lain termasuk tindakan bullying. Bullying tidak dapat diterima di seluruh dunia.
c. Nilai Agama, yaitu nilai yang bersumber dari agama. Nilai ini ditandai dengan konsep keagamaan seperti Tuhan, makhluk gaib, surga-neraka, atau ritual ibadah. Nilai agama berlaku hanya bagi pengikutnya. Nilai agama Islam berlaku untuk umat Muslim, tidak boleh memaksakan nilai agama Islam ke non-Muslim.
“Di sebuah desa yang sunyi, hidup seorang pemuda yang teguh dalam imannya. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, dia bangun untuk melaksanakan salat subuh dengan khusyuk. Dalam sujudnya, dia merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta, merasa tak ada yang lebih penting daripada beribadah kepada-Nya.”
Kutipan di atas mengandung nilai agama Islam, yaitu melaksanakan salat subuh dengan khusyuk dan mengutamakan ibadah.
d. Nilai Budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan tradisi, atau sesuatu yang dilakukan berulang-ulang berdasarkan ajaran leluhur. Setiap masyarakat memiliki tradisi yang berbeda-beda. Contohnya, masyarakat Indonesia melakukan budaya mudik saat Idul Fitri, hal yang tidak dilakukan masyarakat Arab.
“Menghabiskan tujuh hari libur Lebaran, aku kembali ke kampung halamanku. Untungnya masih ada keluarga besar yang tinggal di sana, sementara Ayah dan Ibuku tetap di kota. Kedatanganku pun disambut oleh Pakde yang sudah menungguku ketika aku mengatakan akan berlibur di sana.”
Kutipan di atas mengandung nilai budaya, yaitu tradisi mudik saat Lebaran.
e. Nilai Pendidikan, yaitu nilai yang memberikan pembelajaran. Nilai pendidikan mirip amanat atau pesan penulis cerita terhadap pembaca. Misalnya di cerita Malin Kundang, nilai pendidikannya adalah “jangan melawan orang tua”. Nilai pendidikan biasanya mengandung anjuran, larangan, atau contoh yang bisa diambil pelajarannya.
"Di sebuah sekolah pedesaan yang sederhana, terdapat seorang guru yang berdedikasi bernama Bapak Rudi. Ia memiliki keyakinan kuat bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengubah kehidupan seseorang. Setiap hari, dengan semangat yang membara, Bapak Rudi berdiri di depan kelasnya dan memberikan pelajaran kepada para siswa.”
Kutipan di atas mengandung nilai pendidikan, yaitu guru memang seharusya berdedikasi dan bersemangat dalam memberikan pelajaran kepada siswa.
Nah, demikianlah sedikit pembahasan tentang unsur intrinsik cerpen. Jangan lupa untuk membaca Unsur Intrinsik Cerpen dan Struktur Cerpen. Jika suka dengan artikel ini, mohon ikuti blog atau tuliskan pemikiranmu di kolom komentar!
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar