Pengertian Cerpen
Cerpen (cerita pendek) adalah karangan yang pendek, biasanya terdiri atas 1.000–10.000 kata. Kurang dari 1.000 kata, karangan masih bisa disebut cerpen, hanya saja lebih spesifik penyebutannya menjadi “fiksi kilat”. Sementara jika jumlah katanya lebih dari 10.000, cerita sudah masuk ke dalam kategori novelet (novel pendek).
Ciri-Ciri Cerpen
Sebagai pengingat kembali, cerpen adalah karangan pendek yang jumlah katanya tidak lebih dari 10.000. Cerpen mirip dengan novel. Namun, beberapa hal ini menjadi ciri-ciri cerpen yang membedakannya dari novel, antara lain.
- Berjumlah kata tidak lebih dari 10.000.
- Kebanyakan mempunyai isi cerita yang menggambarkan kehidupan sehari-hari.
- Tidak mencerminkan semua kisah tokohnya, karena dalam cerpen yang dikisahkan hanyalah intinya saja.
- Tokoh yang diceritakan dalam cerpen mengalami sebuah konflik sampai pada tahap penyelesaiannya.
- Pemilihan katanya sederhana sehingga memudahkan para pembaca untuk memahami.
- Menceritakan satu kejadian saja.
- Membacanya tidak membutuhkan waktu yang lama, idealnya dalam sekali duduk.
- Memberikan pesan dan kesan yang sangat mendalam sehingga pembaca akan ikut merasakan kesan dari cerita tersebut.
Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen
Dalam cerpen, terdapat unsur-unsur pembangun. Bayangkan cerpen seperti rumah. Bahan-bahan bangunan yang menyusun rumah itu, seperti semen, pasir, batu bata, dan sebagainya adalah unsur intrinsik. Setiap cerpen memiliki unsur-unsur intrinsik sebagai berikut.
1. Tema
Tema adalah ide utama dari sebuah cerita. Tema seperti jawaban singkat ketika teman kamu bertanya, “Cerpen itu tentang apa?” Perlu dipahami bahwa setiap orang bisa menangkap tema yang berbeda dari sebuah cerita. Karena kita semua dibekali pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Jadi, tidak perlu merasa pemahaman pribadi adalah yang paling benar. Meskipun begitu, tema sebaiknya dapat menggambarkan garis besar sebuah cerita, bukan mengada-ada.
2. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pemeran dalam cerita. Selain manusia, tokoh bisa berupa hewan, barang, atau sesuatu yang dimanusiakan (toh tidak ada yang melarangmu menulis cerpen tentang seblak yang bisa berbicara, misalnya).
Dalam cerita, biasanya ada tiga jenis tokoh, yaitu tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh utama, bukan tokoh baik. Tokoh berperilaku jahat sekalipun tetaplah protagonis jika menjadi tokoh utama. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menentang atau melawan tokoh utama. Di sisi lain, tokoh tritagonis adalah tokoh pendukung di sisi protagonis maupun antagonis.
Sementara itu, penokohan adalah bagaimana pengarang menggambarkan unsur luar (penampilan, cara berjalan, dan sebagainya) dan unsur dalam (kejiwaan dan emosi) tokohnya. Contoh analisis penokohan bisa dilihat dari kutipan berikut.
… Rina itu anak aneh. Suka baca buku aneh. Suka bengong, mainan juga sendiri. Istirahat selalu ke perpustakaan. Jarang salat, kata orang dia suka falsafah-falsafah apa itu namanya. Waktu mengembalikan buku Matematika, dia lagi nangis sendirian di perpustakaan. Aku sempat penasaran dia baca buku apa. Ternyata, buku Harry Potter. Aneh banget sih. Padahal seruan film daripada bukunya!
Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa penokohan Rina adalah sebagai anak aneh dan pendiam.
3. Alur
Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah cerita. Misalnya, cerpen tentang “kehilangan orang tua”. Rangkaian peristiwanya dapat berupa: (1) tokoh berangkat ke sekolah, (2) saat belajar ditelepon saudara bahwa orang tua masuk rumah sakit, (3) tokoh menuju ke rumah sakit, namun (4) sudah terlambat karena orang tua lebih dahulu meninggal dunia.
Terdapat tiga jenis alur, yaitu alur maju (menceritakan peristiwa dari masa kini menuju masa depan), alur mundur (menceritakan peristiwa di masa lampau), dan alur campuran (kombinasi dari alur maju dan alur mundur).
4. Latar
Latar adalah tempat, waktu, dan suasana terjadinya cerita. Memberi latar yang tepat pada cerpen menjadikan ceritanya lebih berkesan dan meyakinkan untuk pembaca. Jika latar tempatnya adalah pedesaan zaman dulu, beri gambaran yang sesuai; misalnya lingkungan asri, rumah-rumah masih sederhana, dan masyarakat yang masih saling tolong-menolong—bukannya individualistis.
5. Sudut Pandang
Sudut pandang ialah posisi pengarang dalam menyajikan cerita. Sudut pandang ditandai dengan penggunaan kata ganti tokoh utama. Terdapat tiga jenis sudut pandang: (1) orang pertama (ditandai dengan aku, saya, atau kita), (2) orang kedua (ditandai dengan kamu atau Anda), dan (3) orang ketiga (ditandai dengan dia, mereka, atau nama orang). Perhatikan contoh di bawah ini!
… Di kelas mana pun, Mazel tak pernah bisa berinteraksi dengan Chanan yang sudah bertukar bangku. Para pengajar terlalu tegas, menginginkan kelas yang kondusif tanpa obrolan tak diinginkan. Setiap kelas pula, Chanan selalu menghindari Mazel, pun tidak memberi tahu ke mana ia pindah. Chanan tampak melebur di antara komunitas penggemar buku.
Sudut pandang kutipan cerpen di atas adalah orang ketiga, karena menggunakan nama tokoh.
6. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam cerita. Amanat biasanya terkait dengan tema. Hanya saja, amanat terkesan memberi arahan. Contohnya, tema cerita “Malin Kundang” adalah “azab anak yang durhaka kepada orang tua”, amanatnya sendiri adalah “jangan durhaka kepada orang tua jika tidak ingin terkena azab”. Tema maupun amanat sama-sama membicarakan “akibat durhaka kepada orang tua”.
Nah, demikianlah sedikit pembahasan tentang unsur intrinsik cerpen. Jangan lupa untuk membaca Nilai-Nilai Kehidupan dalam Cerpen dan Struktur Cerpen. Jika suka dengan artikel ini, mohon ikuti blog atau tuliskan pemikiranmu di kolom komentar!
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar