Ya Allah, maafkan aku. Kamu teringat dosa-dosamu selama ini. Mulai dari meninggalkan sholat, durhaka kepada orang tua, sampai membully temanmu yang pendiam. Mungkin dosa-dosamu itu yang mendatangkan musibah. Kamu juga kurang bersedekah, sebab uang sakumu malah disisihkan untuk membeli album idola Korea.
Saat membuka mata, kamu terkejut karena suasana makin mencekam. Semakin maju, langit menjadi makin gelap. Pepohonan meninggi sampai tidak kelihatan ujungnya. Akar-akar pohon raksasa mencuat dari tanah.
Kamu masuk hutan rimba. Jalan raya menghilang, berganti tanah berbalut lumut, dan persis di hadapanmu kini adalah gundukan tanah merah. Motormu takkan mampu melaluinya.
Turun dari motor, kamu mendengar suara riuh-rendah. Banyak orang bercakap-cakap, sesekali berteriak. Tercium aroma makanan, sayur-sayuran mentah, sampai tembakau. Kamu mendekati sumber suara, meninggalkan motormu begitu saja.
Tak jauh dari tempatmu semula, berdiri sebuah pasar tradisional. Seluruh sudut pasar dipenuhi orang yang melakukan transaksi jual-beli. Sesekali melintas becak dan orang yang mengawal kambing.
Pinggiran jalan setapak utama disesaki penjual berbagai dagangan. Hewan hidup, jajanan sekolah, makanan berat, pakaian, dan lain-lain. Ada pula kios-kios kecil yang menjual barang entah apa.
"Cilok, Neng," tawar salah seorang pedagang yang kelihatan sudah berumur. Ia mengenakan pakaian hitam dan telekung biru, seperti orang Baduy. "Seribu aja, Neng. Enak isinya ikan asli."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar