Sabtu, 31 Desember 2022

Resensi: Pengertian, Struktur, dan Contohnya

Pengertian dan Tujuan Resensi

Menurut H. Dalman (2016), resensi adalah tulisan yang membahas isi sebuah buku, termasuk kelemahan dan keunggulan, untuk disampaikan kepada pembaca. 

Namun dalam perkembangannya, resensi tidak terbatas pada buku. Resensi juga dapat dibuat untuk mengomentari jenis karya lain, misalnya film dan seni.

Dari dua pengertian tersebut, bisa disimpulkan bahwa resensi adalah tulisan yang membahas sebuah buku. Orang yang membuat resensi disebut peresensi.

Resensi dibuat dengan tujuan memberitahu pembaca mengenai isi sebuah buku. Dengan membaca resensi, pembaca diharapkan dapat mempertimbangkan apakah akan membaca sebuah buku atau tidak, karena sudah membaca tentang kelebihan dan kekurangannya. Resensi juga berfungsi memberikan informasi detail sebuah buku. Misalnya penerbit, jumlah halaman, latar belakang pengarang, dan proses kreatif di balik penulisan buku.

Resensi adalah karya tulis semiilmiah. Artinya, resensi ditulis secara formal (menggunakan bahasa baku) dan menyajikan beberapa fakta umum. Namun, resensi tidak ditulis dengan metode ilmiah layaknya karangan ilmiah. Selain itu, resensi mengandung unsur pemikiran pribadi.

Struktur Resensi

Oleh karena resensi yang merupakan karya semiilmiah, penulisannya tidak dibatasi pada struktur atau pola tertentu. Struktur diserahkan kepada kebijakan penulis resensi, disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi.

Akan tetapi, kebanyakan resensi setidaknya mengandung unsur berikut ini.

1. Judul Resensi

Judul resensi berbeda dengan judul buku, meskipun bisa saja disamakan. Judul resensi sebaiknya menarik dan menggambarkan isi resensi. Contohnya adalah, "Mengulik Sisi Kelam Pendidikan Indonesia, Ulasan Buku Mengabdi Bangsa Karya Noni Alfiyana".

2. Data Buku

Data buku memuat informasi mengenai buku, setidaknya informasi dasar. Informasi dasar misalnya judul buku, nama pengarang, tahun terbit, dan penerbit. Informasi tambahan juga bisa dicantumkan, misalnya jumlah halaman, harga buku, tempat peresensi membeli buku, dan seterusnya.

3. Pendahuluan

Bagian ini biasanya berisi kesan awal peresensi terhadap buku yang hendak diulas, alasan peresensi memilih buku yang hendak diresensi, pembahasan mengenai karya-karya lain dari pengarang yang sama, pembahasan tentang situasi kesusastraan Indonesia, dan sebagainya. 

Pendahuluan memberikan konteks apa yang sedang dibahas. Pembaca membaca sebuah resensi dengan harapan mendapatkan informasi baru. Pembaca mungkin saja sama sekalli tidak tahu ataupun memiliki gambaran mengenai buku.

Tanpa memberi konteks, resensi kita tidak akan memenuhi harapan pembaca tersebut, sehingga belum bisa dikatakan menjadi resensi yang baik.

Seperti halnya ingin membicarakan masalah pribadi kita, kita terlebih dahulu akan menceritakan tempat dan waktu kejadiannya.

4. Isi Resensi

Biasanya bagian ini berisi sinopsis dan komentar peresensi mengenai buku. Komentar bisa berisi kelebihan dan kekurangan, ataupun bahasan mendetail mengenai satu atau lebih unsur instrinsik atau ekstrinsik sebuah buku. Selain itu, bisa saja resensi membandingkan isi buku dengan situasi di dunia nyata.

Sinopsis sendiri berarti ringkasan buku. Resensi tidak selalu sama dengan blurb (tulisan yang berada di sampul belakang buku), sebab blurb terkadang berisi pujian atau rekomendasi peresensi lain mengenai buku.

Sinopsis resensi juga sebaiknya tidak mencantumkan spoiler atau jalan cerita secara utuh. Hal itu akan mengurangi ketertarikan pembaca terhadap buku.

5. Penutup atau Rekomendasi

Setelah menuliskan keempat struktur di atas, kamu bisa memberikan kesimpulan di bagian penutup. Jelaskan poin-poin komentarmu secara singkat.

Mengikuti bagian kesimpulan adalah rekomendasi, yaitu penjelasan apakah buku layak dibaca atau tidak. Kamu pun dapat menambahkan skor untuk memperjelas penilaianmu.

Contoh Resensi Singkat

Sinopsis

Le Petit Prince atau yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia “Pangeran Cilik" merupakan buku karya Antoine de Saint ExupĂ©ry yang telah diterjemahkan ke 230 bahasa asing. Buku ini berceritakan tentang sebuah perjalanan Pangeran Cilik mengelilingi planet yang berbeda dengan orang dewasa yang tinggal di dalamnya yang memiliki sifat yang kadang tidak dimengerti oleh sang Pangeran Cilik. Dengan pandangan seorang Pangeran Kecil yang memandang planet-planet yang dikelilinginya tersebut dengan naif dan lugu. Walau dengan sudut pandang anak kecil, cerita ini juga dinikmati dan direnungkan oleh orang dewasa.

Resensi

Tidak ada kata terlambat untuk membaca (atau meresensi) buku ini, karena statusnya sebagai literatur klasik. Jadi bagi kamu yang belum membaca, tidak perlu malu atau berkecil hati. Ceritanya pun akan terus dibicarakan sepanjang masa.

Garis besar novel ini kurang lebih serupa dengan wara (blurb) buku. Tetapi saya menambahkan sedikit ringkasan, “Seorang lelaki (narator) terjebak di gurun dan bertemu dengan Pangeran Cilik. Berdua, mereka berusaha bertahan hidup. Selagi lelaki itu berusaha memperbaiki pesawatnya, dia banyak belajar dari kehidupan unik Pangeran Cilik. Mulai dari petualangannya ke berbagai planet kecil berisi berbagai watak orang dewasa hingga pendaratannya di bumi. Sampai akhirnya Pangeran Cilik membunuh dirinya sendiri. Walaupun merasa kehilangan, sang lelaki merasa bahagia atas pengalaman dan hikmah yang diperolehnya.”

Melihat jumlah halaman, novel pendek ini optimalnya dibaca dalam sekali duduk, tanpa putus-putus. Selain supaya lebih meresapi maknanya, membaca sekali duduk membuat kita bisa mengikuti alur pikir pengarang. Ceritanya sangat imajinatif (kadang-kadang imajinasi tersebut terkesan liar).

Yap, novel ini bernuansa kanak-kanak. Susunan kalimatnya sederhana, pendek-pendek, penuh repetisi. Didukung dengan penggunaan ilustrasi cat air bernuansa buku dongeng.

Tetapi pada bagian pengantar, pengarang menujukan novel ini untuk pembaca dewasa. Itu wajar, karena beberapa unsur dalam cerita ini sebenarnya berupa analogi dunia orang dewasa. Latar belakang penulisan buku ini juga sangat kontekstual, berkaitan dengan peran pengarang dalam Perang Dunia II.

Simbol itu, misalnya, terlihat dari Pangeran Cilik yang dikisahkan merawat bunga di planetnya. Bunga itu cerewet, agak menuntut, dan menyusahkan pemilik. Pertemuan dengan seekor rubah membuat Pangeran Cilik menyadari bahwa bunga itu adalah tanggung jawabnya. Karena bagaimanapun, bunga itu telah menaklukkan hatinya dan memberi kebahagiaan.

Terdengar familier?

Yup. Bagi saya, bunga adalah simbolisme untuk pasangan hidup atau orang yang kita kasihi. Kita boleh merasa jenuh, sebal, dan kecewa terhadap mereka. Namun kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja, bukan? Waktu yang kamu habiskan untuk orang-orang tersayang itulah yang membuat mereka istimewa dan penting.

Intinya, novel ini sangat layak untuk menjadi bagian hidupmu. Ceritanya bisa dinikmati semua kalangan. Bagi anak-anak, Pangeran Cilik dan petualangannya bisa amat menarik perhatian. Kisahnya variatif dan menggugah imajinasi. Bagi orang dewasa, cerita Le Petit Prince menawarkan sudut pandang unik terhadap kehidupan. Selain itu, bisa menjadi nostalgia dan pengingat atas inner child kita.

Bagi kamu yang penasaran, buku Le Petit Prince bisa dibeli di berbagai toko buku seluruh Indonesia. Bisa juga membaca format PDF pada tautan berikut. Hanya saja, mohon maaf, kualitas OCR-nya agak buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar